Barusan aku ada speech di kelasku, so milih tema tentang Pasola di Sumba Barat. Terus diakhir speechku aku tutup dengan sepenggal puisi dari Taufig Ismail (1970) tentang Sumba. Ini lengkapnya Puisi itu:

BERI DAKU SUMBA
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu, aneh aku jadi ingat pada Umbu (Umbu Landu Paranggi adalah penyair asal Sumba temannya Taufig Ismail).
Rinduku pada Sumba adalah Rindu padang padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah Rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari 'kan terbit dari laut
Dan angin zat-asam panas mulai dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa-nova, dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan rarusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh dari kaki bukit bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah-padam, membenan di ufuk yang teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah Rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit bukit yang jauh